LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI
FISIK II
PERCOBAAN III
OLEH :
NAMA : RIFANDI AZIS TEBA
NIM : F1F1 12 018
KELOMPOK :
I
(SATU)
KELAS : A
ASISTEN : SYAHDAM HAMIDI
LABORATORIUM
FARMASI
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2013
NORIT SEBAGAI ADSORBEN
A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengkaji
proses adsorpsi menggunakan norit.
B. LANDASAN TEORI
Arang aktif
adalah arang yang diproses sedemikian rupa sehingga mempunyai daya
serap/adsorpsi yang tinggi terhadap bahan yang berbentuk larutan atau uap.
Arang aktif dapat dibuat dari bahan yang mengandung karbon baik organik atau
anorganik, tetapi yang biasa beredar di pasaran berasal dari tempurung kelapa,
kayu dan batubara. Pada umumnya arang aktif digunakan sebagai bahan penyerap
dan penjernih. Dalam jumlah kecil digunakan juga sebagai katalisator. Sifat
adsorpsinya selektif, tergantung pada besar atau volume pori-pori dan luas
permukaan. Daya serap arang aktif sangat besar, yaitu 25-100% terhadap berat
arang aktif. Struktur arang/karbon aktif menyerupai struktur grafit. Grafit
mempunyai susunan seperti pelat-pelat yang sebagian besar terbentuk dari atom
karbon yang berbentuk heksagonal. Jarak antara atom karbon dalam masing-masing
lapisan 1,42 A. Pada grafit, jarak antara pelat-pelat lebih dekat dan terikat
lebih teratur daripada struktur karbon aktif (Suhartana, 2006).
Adsorpsi adalah suatu proses pemisahan bahan dari campuran
gas atau cair, bahan yang harus dipisahkan ditarik oleh permukaan sorben padat
dan diikat oleh gaya-gaya yang bekerja pada permukaan tersebut. Berkat
selektivitasnya yang tinggi, proses adsorpsi sangat sesuai untuk memisahkan
bahan dengan konsentrasi yang kecil dari campuran yang mengandung bahan lain
yang berkonsentrasi tinggi (Edahwati, 2010).
Adsorpsi adalah metode yang paling efektif dan
efisien. Dalam proses adsorpsi, adsorbent yang umum digunakan adalah karbon
aktif, zeolit, aluminosilicate, ionexchange
resin, tetapi bahan-bahan ini membutuhkan biaya yang mahal. Variabel
yang mungkin berpengaruh pada adsorpsi adalah suhu, waktu adsorpsi, massa
adsorben, dan ukuran pori adsorben. Mekanisme adsorpsi sering melibatkan reaksi
kimia antara kelompok fungsional pada permukaan adsorben dan zat organik.
Isotherm adsorpsi menyatakan hubungan antara jumlah substansi yang diserap oleh
adsorben dengan konsentrasi pada saat setimbang (qe) dengan suhu yang
konstan. Persamaan isotherm biasanya digunakan untuk menentukan kemampuan
adsorben dalam mengadsorpsi adsorbat. Persamaan Langmuir dan Freundlich banyak
digunakan untuk menggambarkan isotherm adsorpsi fase liquid (Wijaya, 2008).
Pada proses adsorpsi
mencakup dua (2) hal penting yaitu kinetika adsorpsi dan termodinamika adsorpsi.
Kinetika adsorpsi meninjau proses adsorpsi berdasarkan laju adsopsi sedangkan
pada termodinamika adsorpsi ditinjau tentang kapasitas adsorpsi dan energi
adsorpsi yang terlibat dalam proses adsorpsi (Purwaningsih, 2009).
Persamaan isoterm Freundlich digunakan untuk
menjelaskan proses adsorpsi non ideal pada permukaan yang heterogen.
Heterogenitas dapat disebabkan oleh adanya perbedaan gugus fungsional pada
permukaan adsorben. Isoterm Langmuir mengasumsikan bahwa adsorpsi yang terjadi
hanya merupakan adsorpsi satu lapis saja (monolayer). Apabila jumlah
situs aktif pada permukaan adsorben sudah tertutup oleh adsorbat, maka proses
adsorpsi selanjutnya akan terhalangi. Penentuan model isotherm Freundlich
dilakukan dengan membuat kurva linier log qe vs log Ce, sedangkan model isoterm
Langmuir dilakukan dengan membuat kurva linier Ce/qe vs Ce (Prasasti, 2012).
Banyaknya ion yang teradsorpsi (mg) per gram arang aktif
dapat ditentukan dengan persamaan qe =
dimana qe = jumlah ion teradsorpsi saat mencapai
kesetimbangan (mg/g); Co = konsentrasi ion sebelum teradsorpsi (mg/L); Ct =
konsentrasi ion setelah teradsorpsi (mg/L); V = volume larutan saat proses
adsorpsi (mL); W = jumlah adsorben (gr) (Yusuf, 2013).

C. ALAT
DAN BAHAN
1.
Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan
ini yaitu :









2.
Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan
ini adalah:



D. PROSEDUR
KERJA
1.
Penentuan
Panjang Gelombang Maksimum


-
diukur
absorbans methyl red pada l 400 nm-500 nm dengan
interval 25 nm.
-
ditentukan
panjang gelombang maksimum
l = 425 nm
2.
Adsorpsi Zat Warna

![]() |
-
ditimbang
0,1 gram
-
dimasukkan
setiap 0,1 gram masing-masing ke dalam 50 ml larutan methyl red 100 ppm, 200 ppm dan 300 ppm
-
dikocok
perlahan selama 10 menit
-
didiamkan
-
diambil
filtratnya
-
diukur
absorbansi filtrat pada panjang gelombang 440 nm
Hasil
pengamatan …?
3.
Penentuan Konsentrasi Zat Warna

![]() |
-
ditentukan
panjang gelombang maksimum larutan zat warna secara spektrometri
-
dibuat
kurva kalibrasi larutan standar zat warna
-
ditentukan
konsentrasi zat warna setelah adsorpsi menggunakan kurva kalibrasi larutan
standar
-
dihitung
berat zat warna yang teradsorbsi
-
dibuat
grafik hubungan antara x/m dan konsentrasi sesuai dengan persamaan Freundlich
-
ditentukan
kapasitas adsorpsinya
Hasil
pengamatan …?
E. HASIL PENGAMATAN
1. Tabel Pengamatan
a) Penentuan Panjang Gelombang
Panjang gelombang (nm)
|
Absorbansi (A)
|
400
425
450
475
500
|
3,976
4,000
3,215
3,323
3,426
|
b) Larutan Standar
Konsentrasi
(ppm)
|
Absorbansi (A)
|
100
150
200
250
300
|
2,917
3,300
3,600
4,000
4,000
|
c) Larutan Sampel
Sampel (ppm)
|
Absorbansi (A)
|
100
200
300
|
2,555
3,217
3,393
|
2.
ANALISIS DATA
a) Kurva
Standar
Konsentrasi
(ppm)
|
Absorbansi (A)
|
100
150
200
250
300
|
2,917
3,300
3,600
4,000
4,000
|

b) Absorbansi
Sampel
Sampel
(ppm)
|
Absorbansi
(A)
|
100
|
2,555
|
200
|
3,217
|
300
|
3,393
|
c)
Perhitungan
Dik : y = 0,286x + 2,703
y1 = 2,555
y2 = 3,217
y3 = 3,393
Dit : Konsentrasi Akhir (x1, x2, x3) =...?
Massa
Teradsorbsi =...?
Peny :
a. Untuk y1 :
y
= 0,286x + 2,703
2,555 = 0,286x + 2,703
X1 =
-0,517 ppm
Untuk
y2 :
y
= 0,286x + 2,703
3,217 = 0,286x + 2,703
X2 =
1,797 ppm
Untuk
y3 :
y
= 0,286x + 2,703
3,393 = 0,286x + 2,703
X3 =
2,412 ppm
b. Massa
Teradsorbsi
Massa Teradsorbsi = [Teradsorbsi] x 0,05 L
=
[100,517] x 0,05 L
x
= 5,025
Massa Teradsorbsi = [198,203] x 0,05 L
x
= 9,910
Massa Teradsorbsi = [297,588] x 0,05 L
x
= 14,879
Sampel
|
Konsentrasi
Awal
|
Konsentrasi
Akhir (x)
|
Teradsorbsi
|
Massa
Teradsorbsi (mg)
|
100
|
100
|
-0,517
|
100,517
|
5,025
|
200
|
200
|
1,797
|
198,203
|
9,910
|
300
|
300
|
2,412
|
297,588
|
14,879
|
d)
Isothermal Adsorbsi
x
(mg)
|
m
(mg)
|
x/m
|
Log
x/m
|
Log
C
|
5,025
|
100
|
0,050
|
-1,301
|
0,286
|
9,910
|
100
|
0,099
|
-1,004
|
0,254
|
14,879
|
100
|
0,148
|
-0,829
|
0,382
|

e)
Persamaan Isotherm
Adsorpsi Freundlich
Dik. : y= 0,236x – 1,516
Log (x/m) =
log C + log k

Dit. : a. nilai k = …?
b.
nilai n = …?
Peny. :
a.
Log k = -1,516
k = 0,030
b.
= 0,236

n = 

n = 4,237
F. PEMBAHASAN
Adsorpsi adalah proses penarikan atau pemisahan suatu zat/bahan
dari suatu campuran gas/cair dimana bahan yang akan dipisahkan ditarik oleh
permukaan zat penyerapnya. Zat penyerap itu disebut sebagai adsorben sedangkan zat
yang diserap disebut adsorbat. Adsorben adalah zat
padat yang dapat menyerap komponen tertentu dari suatu fase fluida. Kebanyakan
adsorben adalah bahan- bahan yang sangat berpori dan adsorpsi berlangsung
terutama pada dinding pori-pori atau pada letak-letak tertentu di dalam
partikel itu. Sedangkan adsorbat adalah
substansi dalam bentuk cair atau gas yang terkonsentrasi pada permukaan
adsorben. Adsorbat terdiri atas dua kelompok yaitu kelompok polar seperti air
dan kelompok non polar seperti methanol, ethanol dan kelompok hidrokarbon. Berbicara
mengenai adsoben, adsorben sendiri terbagi menjadi dua bagian yaitu (1)
adsorben polar, seperti silika gel, alumina aktif, dan zeolit. (2) adsorben
non-polar, seperti polimer adsorben dan karbon aktif.
Pada percobaan ini, akan dilakukan adsorbsi
menggunakan adsorban dari salah satu adsorban karbon aktif tersebut yaitu norit
(arang aktif). Norit adalah karbon yang telah diaktifkan, sehingga mempunyai
daya serap yang tinggi terhadap adsorbat seperti zat warna, berbau, dan zat
beracun. Norit ini berbentuk amorf, hitam, tidak larut dalam air, asam, basa,
dan pelarut organik. Aktivasi karbon dapat dilakukan dengan cara fisika, yaitu
perlakuan panas. Maupun secara kimia, yaitu penambahan zat kimia.
Arang
aktif yang digunakan sebagai
adsorben dapat mengadsorpsi zat warna,
zat bau dan zat racun yang
terdapat dalam suatu sampel. Percobaan ini menggunakan sampel metilen
red, dimana yang akan diadsorpsi yaitu zat warnanya. Prinsip uji arang aktif sebagai absorben adalah banyaknya zat yang
terserap didasarkan atas banyak atau sedikitnya konsentrasi yang digunakan dan
tidak tergantung pada suhunya.
Konsentrasi larutan sampel metilen red yang akan dibandingkan zat warnanya yaitu 100 ppm, 200 ppm dan 300 ppm. Percobaan
ini dilakukan dengan membandingkan perbedaan dari tiap konsentrasi larutan zat
warna. Hasil pada penentuan panjang gelombang maksimum
diperoleh sebesar 430 nm. Pada pengukuran absorbansi larutan standar dengan
konsentrasi 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, 250 ppm dan 300 ppm berturut-turut
hasilnya 2,917
nm; 3300 nm; 3600 nm, 4000nm
dan 4000nm.
Selanjutnya, norit dimasukkan ke dalam larutan sampel zat warna yang akan di adsorpsi dengan konsentrasi sampel yaitu 100 ppm, 200 ppm dan 300
ppm. Pada tahap ini, norit bertindak sebagai adsorben dan larutan zat warna
bertindak sebagai adsorbat. Pengocokkan secara
perlahan dilakukan agar adsorpsi campuran lebih efektif dan mengefisienkan waktu yang
digunakan. Pengocokkan dilakukan selama 10 menit secara
bersamaan untuk setiap sampel dengan konsentrasi yang berbeda karena yang ingin
dibandingkan adalah perbedaan konsentrasi. Penambahan
arang aktif
menyebabkan warna dari larutan zat tersebut menjadi berkurang, hal itu terjadi
karena norit telah menyerap zat warna pada larutan. Hasil adsorpsi tiap konsentrasi sampel selanjutnya diukur
absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer untuk ditentukan
absorbansinya. Nilai hasil absorbansi untuk konsentrasi 100 ppm, 200 ppm dan 300
ppm secara berturut-turut adalah 2,555 nm; 3,217 nm dan 3,393 nm. Hal ini
menunjukkan bahwa, semakin besar konsentrasi, maka semakin banyak molekul yang saling berinteraksi sehingga nilai adsorpsi semakin
meningkat. Dari hasil tersebut diperoleh nilai
persamaan isotherm adsorpsi Freundlich dengan intersep (n) sebesar 4,237. Intersep (n) merupakan indikator dari besar energi dan
macam-macam energi yang berhubungan dengan proses adsorpsi. Serta diperoleh
slope (k) sebesar 0,030. Slope (k) mengindikasikan kapasitas serapan, semakin tinggi nilai k maka
semakin besar afinitas adsorben terhadap adsrobat.
Penggunaan Arang aktif dalam bidang farmasi, dipasarkan
dalam bentuk sediaan komersil norit untuk obat diare. Selain itu dalam industri obat dan makanan digunakan duntuk menyaring dan menghilangkan
bau dan rasa pada obat dan makanan serta sebagai katalisator untuk reaksi
katalisator vinil chloride dan vinil acetat.
G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka
diperoleh kesimpulan bahwa semakin banyak konsentrasi zat
warna yang digunakan, maka semakin tinggi pula nilai adsorpsi suatu zat
tersebut.
DAFTAR PUTAKA
Edahwati L., Suprihatin, 2010, Kombinasi Proses Aerasi,
Adsorbsi, dan Filtrasi pada Pengolahan Air Limbah Industri Perikanan, Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan, Vol. 1 No. 2, Surabaya.
Prasasti,
D., Sri J., Dan Sri S., 2012, Study Of
Adsorption-Reduction Capacity Of Au(Iii) On Humic Acid From Rawa Pening Peat
Soil, Jurnal Ilmiah Kefarmasian, Vol. 2, No. 2, Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.
Purwaningsih, Dyah, 2009, Adsorbsi Multi Logam Ag(I),
PB(II), Cr(III), Cu(II) dan Ni(II) pada Hibrida Etilendiamino-Silika dari Abu
Sekam Padi, Jurnal Penelitian Saintek Vol. 14 No. 1, Universitas Negri
Yogyakarta.
Suhartana,
2006, Pemanfaatan Tempurung Kelapa Sebagai
Bahan Baku Arang Aktif Dan Aplikasinya Untuk Penjernihan Air Sumur Di Desa
Belor Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan, Jurnal Berkala Fisika, Vol. 9, No. 3, FMIPA UNDIP.
Wijaya.
J. W., dkk., 2008, Adsorpsi Zat Organik Nitrobenzene Dari Larutan Dengan Menggunakan
Bubuk Daun Intaran, Jurnal Teknik Kimia Indonesia, Vol. 7, No. 3, Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya.
Yusuf
M.A., Siti T., 2013, Adsorbsi Ion Cr(VI) Oleh Arang Aktif Sekam Padi, Jurnal Kimia, Vol. 2 No. 1, Universitas Negeri
Surabaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar